Suara Warga: Kami Tidak Butuh Tambang, Kami Butuh Laut yang Hidup

Warga asli Raja Ampat, terutama yang tinggal di Kampung Saukabu dan Warsambin, menyuarakan penolakan keras terhadap kehadiran pertambangan nikel di wilayah mereka. Laut dan hutan bukan hanya sumber makanan, tetapi juga bagian dari budaya dan identitas mereka sebagai masyarakat adat.

Menurut laporan dari Jubi.id yang terbit pada tahun 2023, banyak tokoh adat mengaku tidak pernah diberi informasi jelas atau diajak berdiskusi oleh pemerintah ataupun perusahaan tambang sebelum izin diberikan. Mereka merasa keputusan besar seperti ini diambil secara sepihak, tanpa mempertimbangkan keberlangsungan hidup komunitas lokal.

“Kami jaga laut ini turun-temurun. Sekarang pemerintah datang bawa investor, tapi tidak pernah tanya kami mau atau tidak,” ujar Pak Yoram, tetua adat Kampung Saukabu, dalam wawancaranya dengan Jubi.id. Sumber: https://jubi.id/adat-saukabu-tolak-tambang/

Penolakan ini juga muncul dalam laporan Mongabay.co.id yang menyebut bahwa masyarakat adat di Raja Ampat melihat tambang sebagai ancaman nyata terhadap ekosistem yang selama ini mereka kelola dengan kearifan lokal. Mereka khawatir, jika tambang tetap beroperasi, maka dalam 5–10 tahun ke depan, kerusakan alam akan menjadi permanen dan tak bisa diperbaiki. /Sumber: Mongabay, “Tambang Masuk Raja Ampat, Masyarakat Adat Bergerak”, 2023/

Tidak hanya kehilangan laut, warga juga takut kehilangan hak atas tanah dan budaya mereka. Banyak dari mereka bahkan tidak tahu bahwa hutan dan wilayah adat mereka sudah berubah status menjadi area konsesi tambang karena prosesnya tidak transparan dan tanpa konsultasi publik. /Sumber: WALHI Papua Barat, 2023/

Dengan suara yang terus menggema, masyarakat adat berharap pemerintah menghentikan proyek tambang sebelum kerusakan semakin luas. Laut adalah hidup mereka — bukan tempat untuk dijual ke industri tambang.



Komentar

Postingan Populer